By Han Tan @HancTan, Market Analyst with FXTM. Translated by Wordwide FX Financial Translations

Indonesia akan merilis data perdagangan eksternal bulan April pada hari Rabu. Ekspor dan impor mencatat penurunan tahunan pada tiga bulan pertama 2019. Tren turun yang berlanjut dari data ini akan menyoroti rintangan global yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Meninjau kenaikan tarif AS yang diberlakukan terhadap barang Tiongkok pada 10 Mei dan berpotensi terus ditingkatkan, hambatan dagang yang semakin besar akan berdampak negatif pada ekonomi Asia, di tengah perlambatan pertumbuhan global secara umum.

Di saat berbagai risiko eksternal begitu besar, keputusan Bank Indonesia pekan ini mungkin selaras dengan tren regional, mengingat bank sentral Filipina, Malaysia, dan Selandia Baru semuanya mengurangi suku bunga acuan pekan lalu. Kita belum mengetahui apakah BI akan menghapuskan sebagian dari kenaikan 175 bps yang diterapkan tahun lalu guna membantu Rupiah yang telah melemah 1.2 persen terhadap Dolar di sepanjang bulan Mei.

Pasar menunggu perkembangan dagang AS-Tiongkok berikutnya

Ketegangan dagang AS-Tiongkok diperkirakan akan menjadi tajuk utama pekan ini. Pasar Asia membuka hari Senin dengan menjauhi risiko. Kecuali Yen Jepang, sebagian besar mata uang Asia telah melemah terhadap Dolar AS. Shanghai Composite Index dibuka 1.5 persen lebih rendah sebelum pulih dari penurunan pada saat laporan ini dituliskan. Sebagian besar saham Asia juga melemah di Senin pagi. Sementara itu, futures S&P 500 turun satu persen, berpotensi menambah kesulitan bagi saham AS yang telah mengalami penurunan terbesar mingguan di 2019 pada pekan lalu.

Di akhir pekan, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal yang bervariasi mengenai pendekatannya terhadap negosiasi dagang dengan Tiongkok. Di satu sisi, ia membuat cuitan bahwa negosiasi akan dilanjutkan secara "bersahabat", dan bahwa "tidak perlu tergesa-gesa sama sekali". Sebaliknya, Trump juga mengatakan bahwa ia senang "memungut tarif yang besar" dan menyuruh Tiongkok untuk "bertindak sekarang". Cuitan ini dibuat di tengah laporan bahwa negosiator dagang AS memberi waktu satu bulan kepada pihak Tiongkok untuk mencapai kesepakatan atau mengancam akan memberlakukan tarif AS terhadap semua impor Tiongkok.

Skenario dasar pasar tidak kokoh?

Mengingat Trump begitu sulit diprediksi, upaya untuk memprediksi hasil akhir negosiasi dagang AS-Tiongkok berisiko melibatkan skenario dasar yang tidak kokoh sama sekali. Pada saat laporan ini dituliskan, pasar masih menunggu detail mengenai "langkah tanggapan" Tiongkok" terhadap tarif AS yang lebih tinggi yang diberlakukan pada $200 miliar barang Tiongkok pada 10 Mei. Perlu diingat bahwa Presiden Trump juga menyampaikan kemungkinan tarif 25 persen terhadap $325 miliar lagi barang Tiongkok yang saat ini belum dikenakan tarif. Walaupun tampaknya sebagian peserta pasar masih menunggu kesepakatan dagang resmi antara AS-Tiongkok, aksi jual aset berisiko pekan lalu dapat berarti pasar bersiap menghadapi volatilitas lebih tinggi karena keadaan dagang di masa mendatang. 

Potensi deviasi arah ekonomi AS-Tiongkok dapat tingkatkan ketidakpastian pasar

Selain komentar dari kedua pemerintah mengenai perdagangan, investor juga akan memantau indikator ekonomi penting dari AS dan Tiongkok yang akan diumumkan pekan ini. Data produksi industri dan penjualan ritel dari AS dan Tiongkok akan dirilis hari Rabu, di saat ketegangan antara kedua ekonomi terbesar dunia ini semakin panas. Momentum pertumbuhan ekonomi AS diprediksi tetap stabil, sedangkan Tiongkok telah menampilkan sinyal semakin stabil dalam beberapa bulan terakhir. Perbedaan signifikan dari arah pertumbuhan tersebut dapat menambah ketidakpastian di pasar.

Safe haven menguat karena Trump menyuruh Tiongkok untuk "bertindak sekarang"

Trump memberi tahu Tiongkok untuk "bertindak sekarang", tapi investor tidak perlu menunggu perintah dari Presiden AS untuk menghindari risiko. Emas kini berada di pertengahan $1280 dan Yen Jepang menguat, USDJPY semakin menurun di bawah 110. Sementara itu, Indeks Dolar (DXY) stabil di kisaran 97.3 saat ini, setelah mengalami penurunan selama dua pekan berturut-turut.

Kurangnya kemajuan dalam kebuntuan negosiasi dagang AS-Tiongkok dapat membentuk lingkungan yang mendukung aset safe haven, dan memburuknya ketegangan dapat mengangkat nilai emas dan JPY secara signifikan.